KENDARI — Universitas Mandala Waluya melalui Unit Pengabdian Masyarakat (UPM) menyelenggarakan Festival Olahraga dan Seni Budaya yang meriah pada 15 April 2026 lalu. Acara yang berlangsung selama tiga hari ini menjadi wujud nyata komitmen kampus dalam mengabdi kepada masyarakat sekaligus melestarikan warisan budaya Sulawesi Tenggara, khususnya daerah Kendari dan sekitarnya.
Festival yang dihadiri oleh lebih dari 2.000 peserta dari berbagai kalangan ini menampilkan ragam aktivitas menarik, mulai dari pertandingan olahraga tradisional, pameran seni rupa, pertunjukan tari khas daerah, hingga workshop kerajinan lokal. Kehadiran mahasiswa Universitas Mandala Waluya sebagai pelaksana acara menunjukkan antusiasme generasi muda dalam menjaga kelestarian budaya nusantara sambil mengembangkan potensi diri melalui kegiatan pengabdian masyarakat.
Ketua Unit Pengabdian Masyarakat Universitas Mandala Waluya, Dr. Hendra Wijaya, M.Pd., menjelaskan bahwa festival ini merupakan bagian integral dari program kerja tahunan UPM untuk tahun akademik 2025-2026. “Kami percaya bahwa mahasiswa bukan hanya harus menguasai ilmu pengetahuan di ruang kelas, tetapi juga harus turun langsung ke masyarakat untuk memberikan dampak positif,” ujar Dr. Hendra dalam sambutannya pada pembukaan festival.
Lebih lanjut, Dr. Hendra menambahkan bahwa kegiatan ini dirancang dengan melibatkan partisipasi aktif dari mahasiswa berbagai program studi. “Setiap mahasiswa memiliki peran penting, baik sebagai peserta, panitia, maupun sebagai fasilitator dalam setiap cabang kegiatan. Hal ini mencerminkan nilai-nilai Tri Dharma Perguruan Tinggi yang kami pegang teguh,” lanjutnya.
Rangkaian Kegiatan yang Beragam dan Menginspirasi
Festival berlangsung di Lapangan Olahraga Mandala Waluya dan di sekitar area kampus dengan suasana yang meriah dan penuh energi positif. Berbagai cabang olahraga tradisional Sulawesi Tenggara menjadi sorotan utama acara ini. Salah satunya adalah cabor “Pencak Silat Bugis-Makassar” yang menampilkan gerakan-gerakan autentik dengan nilai filosofi mendalam.
“Pencak silat bukan hanya tentang seni bela diri, tetapi juga mengandung makna spiritual dan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur,” kata Drs. Bambang Suryanto, pelatih resmi dan ahli budaya lokal yang ditugaskan sebagai narasumber dalam workshop pencak silat. Lebih dari 150 peserta, terdiri dari mahasiswa dan masyarakat umum, ikut serta dalam kegiatan ini.
Selain pencak silat, festival juga menampilkan cabang olahraga tradisional lainnya seperti “Lompat Tali Versi Lokal” (Lomba Jahe-Jahe), “Tarik Tambang dengan Aturan Adat”, dan “Permainan Peluit Tradisional”. Setiap cabor dirancang untuk tidak hanya menghibur, tetapi juga mengedukasi peserta tentang sejarah dan makna di balik setiap permainan.
Kepala Bagian Pembinaan Olahraga Universitas Mandala Waluya, Ahmad Rizaldi, S.Pd., M.Or., mengatakan bahwa pemilihan olahraga tradisional bukan tanpa alasan. “Kami ingin generasi muda, terutama mahasiswa, memahami bahwa olahraga tradisional memiliki nilai yang sama pentingnya dengan olahraga modern. Bahkan, ada banyak pelajaran berharga tentang kebersamaan dan gotong royong yang bisa kita petik,” terangnya sambil mengamati pertandingan tarik tambang.
Pameran Seni Rupa dan Kerajinan Lokal: Kreativitas Bertemu Tradisi
Di sebelah lapangan olahraga, tepatnya di Gedung Seni Kampus Mandala Waluya, terselenggara Pameran Seni Rupa dan Kerajinan Lokal. Pameran ini menampilkan karya-karya mahasiswa bersama dengan produk kerajinan dari pengrajin lokal Kendari. Kolaborasi ini menjadi jembatan yang efektif antara dunia akademik dan komunitas lokal.
Pameran mencakup berbagai medium, termasuk lukisan, batik tulis khas Sulawesi Tenggara, keramik, dan patung dengan motif lokal. Salah satu hasil karya yang menarik perhatian adalah “Koleksi Pakaian Adat Sulawesi Tenggara Reinterpretasi Modern” yang dikurasi oleh mahasiswa Jurusan Desain Grafis Universitas Mandala Waluya.
“Kami ingin menunjukkan bahwa batik Sulawesi dan pakaian adat lokal bisa dikombinasikan dengan desain kontemporer tanpa menghilangkan identitas budaya aslinya,” jelas Nurul Hidayah, mahasiswa semester enam yang menjadi kurasi pameran tersebut. Hasil karya mahasiswa ini mendapat respons sangat positif dari pengunjung, bahkan beberapa pengrajin lokal tertarik untuk berkolaborasi lebih lanjut.
Wiji Sutrisno, seorang pengrajin batik tradisional yang berusia 62 tahun, turut berdagang di pameran ini. “Saya sangat senang dilibatkan dalam kegiatan kampus ini. Ini adalah kesempatan langka untuk menunjukkan karya kami kepada generasi muda dan juga untuk belajar dari perspektif desain modern mereka,” ungkapnya dengan antusias.
Pertunjukan Seni dan Tari: Warna-Warni Budaya di Panggung
Malam hari festival disemarakkan dengan serangkaian pertunjukan seni, termasuk tari tradisional, musik lokal, dan monolog budaya. Panggung utama yang didirikan khusus untuk acara ini menjadi pusat perhatian dengan pencahayaan yang dramatis dan sistem audio berkualitas tinggi.
Pertunjukan pembuka adalah “Tari Zapin Kendari”, sebuah tarian tradisional yang berakar dari pengaruh Melayu dengan sentuhan lokal. Kelompok penari yang terdiri dari mahasiswa Universitas Mandala Waluya dibimbing oleh Ibu Siti Nurhayati, dosen senior dari Program Studi Seni Pertunjukan. “Tari Zapin bukan hanya gerakan tubuh, tetapi juga ekspresi rasa syukur dan kebersamaan dalam budaya Kendari,” kata Ibu Siti dalam briefing sebelum pertunjukan.
Pertunjukan selanjutnya menampilkan orkestra musik tradisional Sulawesi, yang didominasi oleh alat musik seperti gong, gendang, dan kolintang. Orkestra ini diisi oleh mahasiswa yang sebelumnya sudah mengikuti lokakarya musik tradisional selama dua bulan. “Meski kami baru belajar, energi dari musik ini sangat menular. Rasanya seperti kami berbicara dengan bahasa yang sama dengan nenek moyang kita,” kata Ricky Pratama, salah satu musisi mahasiswa, setelah pertunjukan berakhir.
Workshop Kreatif: Medan Belajar Interaktif
Selain pertunjukan, festival juga menyediakan berbagai workshop interaktif yang memungkinkan peserta untuk langsung belajar dan berlatih. Workshop tersebut mencakup “Pembuatan Batik Tulis Tradisional”, “Kerajinan Anyaman Rotan”, “Pembelajaran Tari Rakyat Sulawesi”, dan “Seni Rupa Tradisional: Dari Sketsa hingga Finishing”.
Workshop batik tulis yang dipandu oleh master pengrajin lokal, Pak Sutejo, menjadi salah satu yang paling diminati. Antrian panjang peserta, baik mahasiswa maupun masyarakat umum, antri untuk mengikuti sesi ini. “Batik itu bukan hanya soal warna dan pola, tetapi juga tentang kesabaran dan ketelatenan. Nilai-nilai ini yang ingin kami tanamkan kepada generasi muda,” kata Pak Sutejo sambil membimbing seorang peserta membuat desain batik.
Koordinator Workshop Universitas Mandala Waluya, Dr. Yanti Kurniasari, S.Sn., M.Sn., menjelaskan bahwa setiap workshop dirancang dengan cermat untuk memastikan hasil pembelajaran yang optimal. “Kami tidak hanya ingin peserta bisa membuat satu karya, tetapi juga memahami filosofi dan sejarah di balik setiap teknik yang mereka pelajari,” jelasnya.
Partisipasi Mahasiswa: Insan Kampus sebagai Agen Perubahan
Kesuksesan festival tidak lepas dari peran mahasiswa Universitas Mandala Waluya yang terlibat dalam setiap aspek penyelenggaraan. Lebih dari 300 mahasiswa dari berbagai program studi ditugaskan sebagai panitia, fasilitator, dan peserta aktif dalam festival ini.
Maha Putra Santoso, mahasiswa semester tiga Jurusan Manajemen Olahraga, menjadi salah satu panitia inti yang menangani logistik dan koordinasi kegiatan olahraga. “Pengalaman ini mengajarkan kami banyak hal di luar teori yang dipelajari di kelas. Kami belajar tentang manajemen proyek, kepemimpinan, dan terutama tentang pentingnya menjaga budaya lokal,” ujar Maha Putra dengan tatapan yang penuh makna.
Sementara itu, Anisa Dewi Kusuma, mahasiswa Jurusan Seni Rupa, terlibat aktif dalam kurasi pameran seni rupa. Menurutnya, festival ini membuka mata bahwa seni bukan hanya tentang menciptakan karya yang indah, tetapi juga tentang memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. “Melalui karya seni kami, kami bisa berkomunikasi dengan masyarakat tentang nilai-nilai budaya yang harus dilestarikan,” katanya penuh semangat.
Dampak dan Respons dari Masyarakat
Respons masyarakat Kendari terhadap festival sangat antusias dan positif. Banyak pengunjung, baik anak-anak, remaja, maupun orang tua, yang tampak menikmati dan terlibat aktif dalam setiap kegiatan. Pedagogis festival ini terasa nyata dengan banyaknya pertanyaan mendalam dari pengunjung kepada fasilitator dan narasumber.
Ibu Suryani, seorang ibu rumah tangga berusia 45 tahun yang datang bersama keluarganya, mengungkapkan kebanggaannya. “Saya sangat senang melihat generasi muda kampus peduli dengan budaya lokal kami. Anak-anak saya jadi belajar banyak tentang warisan budaya yang sebenarnya sangat kaya,” katanya sambil memperhatikan anaknya mencoba membuat batik.
Tidak hanya mendapat respons dari masyarakat umum, festival juga menarik perhatian pemerintah daerah. Wakil Walikota Kendari, Drs. Purnomo Hadi, M.M., yang menghadiri acara penutupan festival, memberikan apresiasi tinggi kepada Universitas Mandala Waluya. “Kegiatan seperti ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi bukan hanya tempat untuk menghasilkan lulusan yang kompeten secara akademik, tetapi juga individu yang peduli terhadap pelestarian budaya dan pembangunan masyarakat,” ungkap Purnomo Hadi.
Rencana Keberlanjutan dan Pengembangan
Unit Pengabdian Masyarakat Universitas Mandala Waluya telah merencanakan kontinuitas program ini. Menurut Dr. Hendra Wijaya, festival olahraga dan seni budaya akan diadakan setiap tahun dengan skala dan cakupan yang terus ditingkatkan. “Kami juga berencana untuk membuat ‘Pusat Studi Budaya Lokal’ yang akan melibatkan mahasiswa secara lebih mendalam dalam penelitian dan pelestarian warisan budaya Sulawesi Tenggara,” katanya.
Selain itu, pihak kampus juga berkomitmen untuk memperluas jaringan kerjasama dengan pengrajin lokal, seniman tradisional, dan lembaga-lembaga budaya lainnya. Target jangka panjang adalah menjadikan Universitas Mandala Waluya sebagai pusat referensi untuk preservasi dan promosi budaya lokal yang inovatif dan berkelanjutan.
Penutup
Festival Olahraga dan Seni Budaya yang diselenggarakan oleh Unit Pengabdian Masyarakat Universitas Mandala Waluya pada 15 April 2026 merupakan bukti konkret komitmen perguruan tinggi terhadap tri dharma pendidikan tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat. Melalui keterlibatan aktif mahasiswa, kolaborasi dengan komunitas lokal, dan apresiasi terhadap warisan budaya, festival ini telah berhasil menciptakan ekosistem yang mendukung pelestarian dan revitalisasi seni dan budaya tradisional.
Dengan semangat yang sama, Universitas Mandala Waluya kiranya terus menjadi motor penggerak dalam upaya-upaya konstruktif untuk memperkuat identitas budaya lokal Sulawesi Tenggara. Keberhasilan festival ini menjadi landasan optimisme bahwa generasi muda Indonesia masih memiliki kesadaran tinggi terhadap pentingnya menjaga warisan budaya nenek moyang, sekaligus mengembangkannya dengan inovasi modern yang relevan.
Festival ini juga menjadi inspirasi bagi perguruan tinggi lain untuk mengadakan kegiatan serupa di daerah masing-masing, sehingga terwujud gerakan nasional dalam melestarikan dan menghargai kekayaan budaya Indonesia yang sangat beragam dan bernilai tinggi.
—
Penulis: Tim Jurnalisme Kampus Universitas Mandala Waluya
Editor: Unit Komunikasi dan Publikasi
Kendari, 20 April 2026