Kendari – Unit Pengabdian Masyarakat Universitas Mandala Waluya (UMW) secara resmi meluncurkan hasil penelitian inovatif bertajuk “Sistem Irigasi Otomatis Berbasis Internet of Things (IoT) untuk Peningkatan Produktivitas Pertanian Lahan Marginal di Sulawesi Tenggara” pada Rabu, 03 April 2026. Penelitian yang menggabungkan keahlian dosen dengan dedikasi mahasiswa ini diharapkan dapat menjadi solusi konkret bagi petani-petani di kawasan Kendari dan sekitarnya yang berjuang meningkatkan hasil panen di tengah keterbatasan sumber daya air.
Inovasi yang dikembangkan selama dua tahun ini merupakan hasil kolaborasi intensif antara Fakultas Teknologi Pertanian, Fakultas Teknik Elektro, dan Unit Pengabdian Masyarakat UMW. Dengan melibatkan lebih dari 50 mahasiswa dari berbagai program studi dan 12 dosen senior, penelitian ini mencerminkan komitmen kampus terhadap pemberdayaan masyarakat lokal melalui pendekatan sains dan teknologi yang aplikatif.
Latar Belakang Penelitian: Mengidentifikasi Masalah Nyata di Lapangan
Kawasan Kendari dan sekitarnya, meski memiliki potensi pertanian yang besar, menghadapi tantangan serius dalam hal manajemen air irigasi. Musim kemarau yang panjang dan infrastruktur irigasi tradisional yang sudah usang menyebabkan petani lokal mengalami penurunan produktivitas hingga 40 persen setiap tahunnya. Selain itu, banyak lahan pertanian yang berpotensi tidak dapat dimaksimalkan karena keterbatasan akses air dan teknologi modern.
Melihat permasalahan ini, dosen-dosen UMW yang tergabung dalam tim riset mulai mengidentifikasi peluang untuk menghadirkan solusi teknologi yang tidak hanya efektif tetapi juga terjangkau bagi petani-petani dengan keterbatasan ekonomi. “Kami memulai dengan riset lapangan yang mendalam, melibatkan wawancara dengan lebih dari 200 petani untuk memahami persis apa kebutuhan dan kendala mereka,” ungkap Dr. Bambang Suryanto, Ketua Tim Penelitian dari Fakultas Teknologi Pertanian, dalam penjelasannya kepada media kampus.
Inovasi Teknologi: Merancang Solusi Praktis dan Berkelanjutan
Sistem irigasi otomatis berbasis IoT yang dikembangkan UMW memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari sistem-sistem serupa di pasaran. Pertama, sistem ini dirancang dengan komponen lokal yang dapat diproduksi dan diperbaiki secara mandiri oleh teknisi setempat, sehingga mengurangi ketergantungan pada impor komponen mahal.
Kedua, teknologi ini menggunakan sensor tanah berkualitas tinggi yang dapat mendeteksi tingkat kelembaban dan nutrisi tanah secara real-time. Data-data ini kemudian dianalisis oleh aplikasi mobile yang dikembangkan khusus, memberikan rekomendasi irigasi otomatis kepada petani dengan presisi tinggi. Hasilnya, efisiensi penggunaan air dapat ditingkatkan hingga 60 persen dibandingkan dengan metode irigasi konvensional.
“Teknologi ini tidak hanya hemat air, tetapi juga membantu petani menghemat biaya listrik dan tenaga kerja. Otomasi berarti petani tidak perlu berjaga-jaga di ladang sepanjang waktu untuk membuka atau menutup saluran air,” jelas Ir. Siti Nurhaliza, dosen dari Fakultas Teknik Elektro UMW yang menangani aspek teknis pengembangan sistem.
Komponen utama sistem terdiri dari sensor kelembaban tanah berbasis kapasitif, modul komunikasi GSM/GPRS untuk transmisi data, unit kontrol berbasis Arduino, dan katup solenoid otomatis yang terintegrasi langsung dengan instalasi irigasi existing. Semua komponen tersebut dirancang untuk tahan terhadap iklim tropis Sulawesi Tenggara dengan suhu dan kelembaban tinggi.
Mahasiswa yang terlibat dalam penelitian ini juga mengembangkan interface user yang ramah-pengguna, mengingat mayoritas petani lokal memiliki tingkat literasi teknologi yang masih terbatas. “Kami merancang aplikasi yang bisa dioperasikan bahkan oleh petani yang tidak terbiasa dengan teknologi digital. Ikon-ikon besar, instruksi dalam bahasa lokal, dan tutorial video tersedia untuk memudahkan pengguna,” papar Muhammad Rizki Pratama, mahasiswa semester 8 Prodi Teknik Elektro yang menjadi koordinator pengembangan aplikasi.
Tahap Uji Coba dan Hasil Lapangan
Sebelum diluncurkan secara resmi, sistem ini telah melalui fase uji coba ekstensif selama 18 bulan melibatkan 15 petani mitra di lima desa di sekitar Kendari: Desa Poasia, Abeli, Kambu, Nambo, dan Wawonii. Hasil uji coba menunjukkan tingkat keberhasilan yang sangat menggembirakan.
Data dari lapangan menunjukkan bahwa petani yang menggunakan sistem IoT ini mengalami peningkatan hasil panen rata-rata 45 persen. Pada petani yang menanam padi, hasil panen meningkat dari rata-rata 4 ton per hektar menjadi 5,8 ton per hektar. Untuk sayuran seperti cabai dan tomat, peningkatan hasil mencapai 50 persen dengan kualitas produk yang lebih konsisten dan seragam.
Selain peningkatan kuantitas, penelitian juga menunjukkan peningkatan kualitas hasil panen. Tingkat kesegaran sayuran meningkat karena irigasi yang lebih teratur dan terkontrol. Petani-petani juga melaporkan penurunan signifikan dalam penggunaan pestisida karena tanaman yang sehat cenderung lebih resisten terhadap hama dan penyakit.
“Saya sudah bertani selama 35 tahun, tapi saya tidak pernah melihat hasil seperti ini. Padi saya tumbuh lebih subur, dan saya bisa fokus mengerjakan hal lain tanpa harus khawatir tentang irigasi. Yang paling penting, biaya produksi saya turun drastis,” ujar Mahmud, petani asal Desa Poasia yang menjadi salah satu peserta uji coba, dengan antusiasme tinggi.
Pernyataan Pejabat Kampus dan Komitmen Berkelanjutan
Pada acara peluncuran formal yang dihadiri oleh Rektor UMW, Prof. Dr. H. Syafruddin Kasim, M.Sc., beliau menyatakan kebanggaannya terhadap pencapaian ini. “Penelitian ini menunjukkan bahwa universitas bukan hanya tempat untuk mengajar dan belajar, tetapi juga lembaga yang harus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Inovasi yang lahir dari dedikasi dosen dan semangat mahasiswa kita ini adalah bukti nyata dari komitmen UMW terhadap Tri Dharma Perguruan Tinggi,” kata Prof. Syafruddin dalam pidatonya.
Direktur Unit Pengabdian Masyarakat, Dr. Hasanuddin Rahman, menambahkan bahwa universitas telah menyiapkan anggaran untuk fase berikutnya. “Kami akan memproduksi 100 unit sistem irigasi otomatis dalam kuartal kedua tahun ini. Dengan kerjasama bersama Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Tenggara dan Pemerintah Lokal Kendari, kami menargetkan distribusi ke 300 petani dalam dua tahun ke depan,” terang Dr. Hasanuddin dengan antusias.
Lebih lanjut, beliau juga menyebutkan bahwa UMW telah menjajaki kerjasama dengan startup teknologi lokal untuk membuat produksi yang lebih scalable. “Kami tidak ingin inovasi ini hanya tinggal di tingkat penelitian akademis. Kami ingin agar teknologi ini menjadi produk komersial yang bermanfaat bagi ribuan petani di Sulawesi Tenggara,” tutur Dr. Hasanuddin.
Dampak Sosial dan Ekonomi yang Diharapkan
Dengan implementasi sistem irigasi otomatis ini, dampak sosial ekonomi yang diharapkan cukup signifikan. Pertama, peningkatan pendapatan petani yang dapat berkontribusi pada pengurangan angka kemiskinan di kawasan perdesaan. Kedua, penciptaan lapangan kerja baru dalam hal servis dan maintenance sistem, serta pelatihan teknis bagi petani lokal. Ketiga, peningkatan ketahanan pangan lokal yang strategis bagi Sulawesi Tenggara.
Dari sisi lingkungan, sistem ini juga memberikan dampak positif. Pengurangan penggunaan air sebesar 60 persen berarti konservasi sumber daya air yang sangat penting di era perubahan iklim. Pengurangan penggunaan pupuk dan pestisida berkat tanaman yang lebih sehat juga berarti berkurangnya pencemaran lingkungan dan peningkatan keberlanjutan pertanian jangka panjang.
“Kami juga sedang mengembangkan modul pelatihan untuk petani dan teknisi setempat. Dalam enam bulan ke depan, kami akan melatih 50 teknisi dari berbagai desa agar mereka bisa menjadi troubleshooter lokal untuk sistem ini,” jelas Prof. Dr. Sri Wahyuningsih, dosen Fakultas Agribisnis UMW yang menangani aspek pelatihan dan pemberdayaan masyarakat.
Kolaborasi Lintas Sektor dan Rencana Ekspansi
Kesuksesan penelitian ini juga tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. Pemerintah Daerah Kendari melalui Dinas Pertanian telah memberikan akses ke data geografis dan dukungan logistik. Beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lokal juga terlibat dalam sosialisasi dan pendampingan ke masyarakat petani. PT Telkom Indonesia juga turut mendukung dengan menyediakan layanan data dengan harga khusus untuk petani yang menggunakan sistem ini.
“Kolaborasi ini menunjukkan bahwa inovasi untuk pemberdayaan masyarakat tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan keterlibatan lintas sektor mulai dari akademis, pemerintah, swasta, dan masyarakat sipil,” ujar Bupati Kendari, H. Asrun Abdullah, dalam sesi forum diskusi yang diadakan usai peluncuran.
Rencana ekspansi juga sudah disiapkan. UMW berencana mengadaptasi sistem ini untuk lahan-lahan yang berbeda karakteristik, tidak hanya untuk sawah dan kebun sayuran, tetapi juga untuk perkebunan kelapa, kakao, dan tanaman lain yang strategis bagi perekonomian Sulawesi Tenggara. Tim peneliti juga sedang mengeksplorasi integrasi dengan weather forecasting dan soil mapping untuk memberikan rekomendasi yang lebih akurat.
Kesuksesan Akademis yang Didapat Mahasiswa
Dari perspektif akademis, keterlibatan mahasiswa dalam penelitian ini membawa manfaat ganda. Tidak hanya mendapatkan pengalaman praktis yang berharga, mahasiswa juga berhasil menghasilkan beberapa publikasi ilmiah. Sebanyak 7 artikel telah diterbitkan di jurnal nasional terakreditasi dan 3 artikel dalam proses review di jurnal internasional.
Beberapa mahasiswa juga telah menjadi pemakalah di berbagai seminar nasional dan internasional. “Pengalaman ini mengajarkan kami bahwa ilmu yang kita pelajari di kampus harus relevan dengan kebutuhan masyarakat. Saya belajar tidak hanya tentang teknik elektro, tetapi juga tentang pentingnya empati dan pemahaman terhadap konteks sosial pengguna teknologi,” ujar Sinta Wijayanti, mahasiswa semester 6 Prodi Teknik Elektro.
Penutup: Masa Depan Pertanian Berkelanjutan
Pencapaian Universitas Mandala Waluya dalam mengembangkan inovasi teknologi pertanian berbasis IoT ini menjadi teladan penting bagi institusi pendidikan lain untuk lebih proaktif dalam menghadirkan solusi nyata bagi permasalahan masyarakat. Penelitian ini membuktikan bahwa universitas, melalui Unit Pengabdian Masyarakatnya, dapat menjadi katalis perubahan sosial yang positif.
Dengan rencana implementasi yang matang, dukungan dari berbagai stakeholder, dan komitmen berkelanjutan dari UMW, sistem irigasi otomatis ini memiliki potensi besar untuk diterapkan secara masif di kawasan Sulawesi Tenggara dalam beberapa tahun ke depan. Semoga inovasi ini menjadi awal dari serangkaian terobosan teknologi pertanian yang akan membawa kemakmuran bagi petani lokal dan ketahanan pangan nasional yang lebih baik.
Penelitian ini juga membuka peluang bagi mahasiswa dan dosen UMW untuk terus berinovasi, menciptakan solusi-solusi cerdas yang tidak hanya bernilai akademis tinggi tetapi juga memberikan dampak langsung kepada kehidupan masyarakat. Pada akhirnya, inilah esensi sejati dari pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh institusi pendidikan tinggi di Indonesia.
(Redaksi mengucapkan terima kasih kepada semua narasumber yang telah bersedia berkontribusi dalam penulisan artikel ini. Untuk informasi lebih lanjut tentang program penelitian UMW, masyarakat dapat menghubungi Unit Pengabdian Masyarakat Universitas Mandala Waluya melalui telpon 0401-3195000 ext. 1250 atau email: [email protected])
—
Jumlah kata: 1.847 kata