KENDARI — Dalam upaya memperkuat komitmen terhadap pemberdayaan masyarakat dan pengembangan potensi mahasiswa, Unit Pengabdian Masyarakat (UPM) Universitas Mandala Waluya menyelenggarakan Festival Olahraga dan Seni Budaya yang meriah pada akhir pekan lalu. Acara yang berlangsung selama tiga hari penuh dari 28 hingga 30 Maret 2026 ini berhasil menghadirkan lebih dari 500 peserta, terdiri dari mahasiswa, masyarakat lokal, serta berbagai organisasi komunitas olahraga dan seni di Kota Kendari.
Mengusung tema “Bergerak, Berkarya, dan Berbagi untuk Kendari yang Lebih Sehat dan Berbudaya,” festival ini menjadi salah satu inisiatif terbesar UPM dalam tahun akademik 2025-2026. Penyelenggaraan acara tersebut mencerminkan visi Universitas Mandala Waluya sebagai institusi pendidikan tinggi yang tidak hanya fokus pada pembelajaran akademik, tetapi juga aktif berkontribusi pada pengembangan kualitas hidup masyarakat sekitar.
### Latar Belakang dan Motivasi Penyelenggaraan
Kegiatan ini lahir dari hasil evaluasi mendalam yang dilakukan oleh Unit Pengabdian Masyarakat selama kuartal terakhir tahun 2025. Menurut catatan resmi kampus, terdapat peningkatan signifikan dalam permintaan mahasiswa untuk terlibat dalam kegiatan di luar kelas yang bermanfaat bagi komunitas. Di sisi lain, pihak rektorat juga mencatat bahwa masih terdapat kesenjangan antara potensi seni dan olahraga yang dimiliki mahasiswa dengan akses masyarakat luas terhadap fasilitas dan pendampingan berkualitas.
“Kami melihat adanya peluang emas untuk menghadirkan program yang win-win solution,” kata Ir. Bambang Sutrisno, Kepala Unit Pengabdian Masyarakat Universitas Mandala Waluya, dalam wawancara mendalam bersama media kampus pada Senin, 31 Maret 2026. “Festival ini dirancang tidak hanya sebagai ajang demonstrasi kemampuan mahasiswa, tetapi juga sebagai sarana transfer pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat Kendari yang lebih luas.”
Persiapan festival ini memakan waktu kurang lebih empat bulan, melibatkan lebih dari 30 mahasiswa dari berbagai program studi sebagai panitia inti dan koordinator kegiatan. Mereka bekerja sama dengan Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kota Kendari, serta kolaborasi dengan beberapa institusi lokal lainnya.
### Rangkaian Acara yang Beragam dan Inklusif
Festival Olahraga dan Seni Budaya UPM Universitas Mandala Waluya menampilkan beragam kompetisi dan workshop yang dirancang untuk mengakomodasi berbagai tingkat keahlian dan kelompok usia. Pada kategori olahraga, acara ini menyajikan pertandingan sepak bola, bola voli, badminton, tenis meja, dan lari maraton komunitas yang melibatkan baik mahasiswa maupun masyarakat umum.
“Kami memberikan kesempatan kepada semua orang untuk berpartisipasi tanpa batasan yang ketat,” jelas Siti Nurhaliza, mahasiswa semester lima Prodi Manajemen yang menjadi Ketua Panitia Festival. “Kategori olahraga kami sengaja dibagi menjadi beberapa divisi berdasarkan usia dan kemampuan, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga kelompok usia lanjut. Tujuannya adalah memastikan setiap orang merasa welcome dan dapat menikmati suasana kompetisi yang sehat.”
Sementara itu, dalam ranah seni dan budaya, festival ini menampilkan berbagai pertunjukan yang mencerminkan kekayaan budaya Sulawesi Tenggara. Ada kompetisi tari tradisional, fashion show dengan tema batik lokal, lomba musik dengan berbagai genre, pameran seni rupa karya mahasiswa, serta workshop pembuatan kerajinan tangan tradisional yang melibatkan pengrajin lokal sebagai narasumber.
Salah satu highlight dari festival ini adalah pertunjukan tari Zapin yang ditampilkan oleh kelompok mahasiswa dengan iringan musik modern, menciptakan fusi yang menarik antara tradisi dan kontemporer. Penampilan ini mendapat sambutan meriah dari penonton yang hadir, mencapai lebih dari 2.000 orang pada hari ketiga acara berlangsung.
### Peran Mahasiswa dan Pembelajaran Praktis
Keterlibatan mahasiswa dalam penyelenggaraan festival ini bukan hanya sebagai peserta kompetisi, tetapi juga sebagai penyelenggara, fasilitator, dan pendampingan. Para mahasiswa dari berbagai prodi, khususnya dari Prodi Olahraga, Seni Rupa, Musik, dan Manajemen, mendapat kesempatan langka untuk menerapkan teori yang mereka pelajari di kelas ke dalam praktik nyata.
“Dari pengalaman ini, saya belajar bagaimana mengorganisir acara skala besar dengan standar profesional,” ujar Reza Pratama, mahasiswa semester enam Prodi Manajemen Event yang menjadi koordinator logistik. “Mulai dari pengurusan izin, koordinasi dengan vendor, manajemen anggaran, hingga handling on-the-spot problems yang tidak terduga. Ini adalah pembelajaran yang tidak bisa didapat dari buku teks saja.”
Mahasiswa dari Prodi Olahraga juga berperan aktif sebagai juri dan pembimbing teknis dalam berbagai cabang olahraga. Mereka tidak hanya menilai performa peserta, tetapi juga memberikan feedback konstruktif untuk pengembangan kemampuan atletik masyarakat umum. Hal serupa dilakukan oleh mahasiswa seni yang memberikan workshop keterampilan seni kepada peserta komunitas, baik dalam bentuk masterclass tari, vocal training, maupun tutorial teknik melukis.
### Dampak Sosial dan Pemberdayaan Komunitas
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kota Kendari, Drs. Hasan Mahmud, M.Si., memuji inisiatif Universitas Mandala Waluya ini dalam acara penutupan festival. Dia menekankan bahwa kolaborasi antara institusi pendidikan tinggi dan pemerintah lokal sangat penting untuk meningkatkan literasi olahraga dan apresiasi seni budaya di kalangan masyarakat.
“Festival ini membuktikan bahwa universitas tidak hanya hadir untuk menghasilkan lulusan berkualitas, tetapi juga dapat menjadi katalis perubahan sosial positif di masyarakat,” kata Drs. Hasan Mahmud dalam pidatonya yang diunggah di media sosial resmi Pemerintah Kota Kendari. “Kami melihat potensi besar untuk mengembangkan kemitraan yang lebih berkelanjutan dengan UPM Universitas Mandala Waluya dalam program-program pemberdayaan masyarakat di bidang seni dan olahraga.”
Dari perspektif pemberdayaan ekonomi, festival ini juga memberikan kesempatan kepada pengrajin dan seniman lokal untuk memamerkan karya mereka. Pameran produk kerajinan tangan tradisional yang diselenggarakan selama festival berhasil menciptakan transaksi penjualan senilai lebih dari Rp 45 juta, langsung memberikan dampak ekonomi positif kepada komunitas pengrajin lokal.
Ibu Salmiah, seorang pengrajin batik tradisional asal Kelurahan Baruga, mengungkapkan kebahagiaan dan harapannya terkait partisipasi dalam festival tersebut. “Ini adalah kesempatan emas bagi saya untuk menunjukkan karya terbaik kami kepada pasar yang lebih luas,” katanya sambil menunjukkan produk batik yang terjual habis selama festival berlangsung. “Semoga ada program lanjutan yang melibatkan pengrajin seperti kami, karena ini benar-benar membantu untuk mengembangkan usaha kami.”
### Testimoni Peserta dan Penonton
Respons positif juga datang dari peserta kompetisi olahraga. Kelompok sepak bola komunitas “Kota Kendari United” yang ikut berpartisipasi dalam turnamen, menyampaikan apresiasi mereka atas penyelenggaraan yang tertib dan sportif. “Turnamen ini memberikan ajang bagi kami untuk bersaing sambil membangun solidaritas antarkelompok komunitas di Kendari,” kata Hendra Wijaya, kapten tim sepak bola komunitas tersebut.
Sementara itu, peserta yang hadir khusus untuk mengikuti workshop seni juga memberikan feedback yang sangat positif. Tiga puluh peserta yang mengikuti workshop tari tradisional Zapin, disampaikan oleh instruktur utama, mahasiswa seni bernama Ratna Dewi, mengalami peningkatan signifikan dalam pemahaman mereka tentang teknik dasar gerak tari.
“Peserta sangat antusias dan bersemangat, bahkan banyak yang bertanya apakah ada rencana workshop lanjutan,” tutur Ratna Dewi dengan senyuman bangga. “Ini menunjukkan bahwa ada hunger yang besar di masyarakat untuk belajar seni budaya lokal. Sekarang tugas kita adalah bagaimana membuat program berkelanjutan yang dapat memfasilitasi kebutuhan ini.”
### Perspektif Pimpinan Universitas
Rektor Universitas Mandala Waluya, Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso, M.Sc., memberikan apresiasi tinggi atas kesuksesan penyelenggaraan festival ini. Dalam nota resmi yang dikirimkan kepada UPM, beliau menekankan bahwa kegiatan seperti ini sejalan dengan roadmap pengembangan universitas untuk menjadi institusi yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
“Unit Pengabdian Masyarakat telah menunjukkan kinerja yang luar biasa dalam menyelenggarakan kegiatan yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga memberikan dampak nyata kepada masyarakat Kendari,” tulis Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso dalam surat apresiasi resmi. “Saya mendorong untuk pengembangan dan pengulangan festival ini secara berkala, sambil terus berinovasi dalam menciptakan program-program pengabdian yang relevan dan berdampak.”
Ketua Senat Akademik Universitas Mandala Waluya, Prof. Dr. H. Muhamad Riski, M.A., juga mengakui bahwa festival ini telah membuka peluang kolaborasi lintas prodi yang lebih dalam. “Keberhasilan festival ini menunjukkan bahwa ketika berbagai prodi bekerja bersama dengan tujuan bersama, hasil yang dicapai jauh melebihi ekspektasi,” katanya saat ditemui di ruang kerjanya.
### Rencana Pengembangan ke Depan
Momentum kesuksesan festival ini telah memicu berbagai rencana pengembangan ke depan. Menurut Ir. Bambang Sutrisno, UPM sedang merancang program berkelanjutan yang akan dilakukan secara rutin, minimal dua kali dalam setahun. “Kami juga sedang mengembangkan konsep ‘Komunitas Seni dan Olahraga Mandala Waluya’ yang akan menjadi wadah bagi mahasiswa dan masyarakat untuk terus terlibat dalam kegiatan seni dan olahraga yang terstruktur dan berkelanjutan,” jelasnya.
Selain itu, UPM juga merencanakan pendalaman kolaborasi dengan pemerintah lokal dan berbagai stakeholder lainnya untuk mengembangkan program pelatihan atlet muda berbakat dan pengrajin seni yang memiliki potensi komersial. “Kami percaya bahwa universitas harus menjadi pusat inovasi dan pemberdayaan, tidak hanya dalam aspek akademik, tetapi juga dalam pengembangan potensi seni dan olahraga masyarakat,” tambahnya.
### Penutup
Festival Olahraga dan Seni Budaya yang diselenggarakan oleh Unit Pengabdian Masyarakat Universitas Mandala Waluya pada 28-30 Maret 2026 telah membuktikan diri sebagai kegiatan yang bermakna dan berdampak. Acara ini berhasil menciptakan sinergi positif antara mahasiswa, universitas, dan masyarakat dalam lingkup pemberdayaan seni dan olahraga.
Dengan lebih dari 500 peserta aktif, ribuan penonton, dan dampak ekonomi yang terukur, festival ini menunjukkan bahwa universitas dapat menjadi agen perubahan sosial yang nyata dan signifikan. Keberhasilan ini sekaligus membuka peluang bagi Universitas Mandala Waluya untuk terus memperdalam peran dan kontribusinya dalam pengembangan komunitas Kota Kendari, khususnya dalam preservasi budaya lokal dan promosi gaya hidup sehat melalui olahraga.
Ke depannya, diharapkan festival ini tidak hanya menjadi acara tahunan yang dinanti-nantikan oleh mahasiswa dan masyarakat, tetapi juga menjadi platform launching bagi talenta-talenta muda Kendari dalam bidang seni dan olahraga, serta berkontribusi pada ekonomi kreatif lokal yang semakin berkembang.
—
Artikel ini merupakan liputan pemberitaan dari acara Festival Olahraga dan Seni Budaya Unit Pengabdian Masyarakat Universitas Mandala Waluya. Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi kantor UPM di Jalan Reformasi No. 1, Kendari, atau mengunjungi media sosial resmi kampus.